Rabu, 12 Agustus 2015

cerbung, my story

tumbuh menjadi dewasa merupakan keinginan setiap manusia di muka bumi ini, begitu pun aku, aku ingin segera dewasa dan memiliki cinta, hingga hari itu tiba, hari di mana sesuatu yang tak masuk dalam fikiran ku menghantui ku, namun cukup untuk membuatku memutuskan untuk kembali ke masa kanak-kanak ku, namun semua tak mungkin terjadi.
bermula ketika umur ku menginjak 17 tahun, lepas dari masa putih abu abu yang amat menyenangkan.  aku di terima di sebuah PTS di kota daerah ku, saat itu aku bahagia karena yang pertama aku bisa lepas dari orang tua dan yang kedua aku bisa dekat dengan kekasih tercintaku, kami menjalani hubungan cukup lama di mulai aku smp, hahahaha lucu ya aku smp sudah pacaran dan dia lah pacar ku hingga aku tamat sma sekarang.  4 bulan pertama semuanya terasa indah, gimana gak indah gak ada yang marah uang jajan ada terus di kirim orang tua, di tambah penyemangat selalu ada buat kita, namun memasuki bulan ke 5 hubungan kami gentar dan hancur oleh wanita yang sudah ku kenal sebut saja ia rere wanita yang dulu merupakan teman ku saat aku smp namun kami pisah ketika sma dia di sekolah seberang aku di sekolah seberang lagi.  Rere wanita yang masuk dalam hubungan kami ketika sma dan aku tak tau jika lepas sma dia juga yang menjadi penyebab hubungan kami hancur.  Rere mengaku hamil dan menuntut pria ku untuk bertanggung jawab, saat itu aku tidak dapat berfikir yang ada dalam fikiran ku hanya bagaimana caranya aku dapat mengikhlaskan yang terjadi.  sore itu tepat pukul 4 setelah aku sholat asar bembeng pria ku yang selama ini dengan ku datang menuju kos ku.  dering hp ku terdengar, kubiarkan karna aku yakin itu telfon dari bembeng. hingga 5 kali hp ku berdering baru aku jawab.
"iya beng"
"keluar, aku depan gerbang kos mu"
setelah itu terdengar bunyi nada pemutus sambungan telfon.  aku keluar dengan hanya menggunakan celana pendek dan baju kaos.  ku temui bembeng yang tengah berdiri di belakan pagar kos ku.  ku lihat wajahnya merah matanya berkaca kaca.
"ada apa" tanya ku membuka percakapan
"ayo pergi dengan ku, aku tak menginginkan pernikahan ini"
"gak mau, kamu tu lelaki, kamu harus bisa bertanggung jawab atas apa yang kamu perbuat.  kalau kau sayang sama ku, nikahi wanita itu"
"kau gak sayang sama ku"
" aku sayang sama mu, aku cuma gak mau memiliki pria yang tidak bertanggung jawab" ucap ku menahan air mata yang sebenarnya ingin tumpah saat itu juga, aku juga ingin menarik tangan nya dan membawanya menjauh dari semuanya, namun aku coba tegar dengan tetap tersenyum di hadapannya.
" ya udah kalau itu keputusan mu, tunggu aku dua tahun lagi, aku bakal balik sama mu karna aku sayang sama mu."
kemudian bembeng pergi meninggalkan ku, saat itu hati kami benar-benar sakit, dan hanya kami yang tahu gimana perasaan kami saat itu.  pandangan ku tak beralih dari punggung yang perlahan mulai menjauh.  aku kembali ke kamarku dengan air mata, ku peluk sahabat ku yang sejak aku jauh dari orang tua ku ia lah keluarga kedua ku.  malam hingga pagi tak dapat ku tutupi hati ku yang pedih terkadang butir demi butir keluar dari celah yang membasahi pipi tandus nan gersang yang dahulu di penuhi senyum bahagia.  namun aku bersedih hanya ketika aku sendiri, karna aku tak ingin ada yang melihatku menangis, aku tak ingin terlihat lemah di mata orang-orang di sekitar ku.  dua bulan berakhir dari kejadian pahit yang menyayat hati, aku sudah bisa memperbaiki segalanya menata diri untuk tak terlihat bahwa aku masih terus memikirkannya, tak lama kemudian aku mendengar berita bahwa mantan yang tak ada kata putus dengan ku mempunyai anak, ku lihat anaknya ku lihat senyumnya, aku tak menyadari aku juga tersenyum melihatnya, ada kebahagiaan tersendiri yang aku tak mengerti apa itu.  sebulan kemudian hp ku muncul penambahan teman di bbm ku yang membuat aku terkejut dia yang telah ku relakan menghubungi ku kembali, kami bertanya kabar masing-masing dan ini juga merupakan awal dari masalah baru, walau saat itu aku sudah memiliki pria baru dalam hidup ku walau perasaan itu hambar tak ada yang dapat aku lukisan.  saat itu kami memulai komunikasi kembali, hanya bersapa dan mengenang masa lalu yang tak mungkin terulang, cukup lama kami komunikasi, kemudian dia menghilang lagi.  akau tetap menjalani hari seperti biasa, masalah baru muncul bukan berasal dari mantan atau pacar ku sekarang tapi masalah itu menyerang persahabatan ku, persahabatan yang sudah ku bangun cukup lama dan dia yang sudah ku anggap keluarga kedua di saat aku merantau, lebih memilih kekasihnya dan memusuhi ku, saat itu aku merasakan hal yang lebih sakit dari aku kehilangan kekasih ku yang sudah lama dengan ku.  kami bertengkar cukup hebat dan dia memutuskan untuk pergi dari rumah yang kami tempati bersama.